Saat Gen Z Mengejar AI, tetapi Melupakan Fisika

Oleh:  Anla Fet Hardi, S.Si., M.Si  •  Departemen Fisika FMIPA USK

Pengumuman hasil SNBP dan UTBK-SNBT 2026 kembali menghadirkan pemandangan yang hampir selalu berulang setiap tahun. Ratusan ribu siswa berlomba memperebutkan kursi pada program studi yang dianggap menjanjikan masa depan, seperti kedokteran, Teknik, ekonomi, hukum, psikologi, hingga ilmu komputer. Di tengah euforia tersebut, program studi sains dasar seperti fisika terpantau masih sepi peminat.

Bagaimana fakta peminat ilmu fisika di perguruan tinggi?

Sumber Kompas.com, 27 Mei 2025 melaporkan sebanyak 860.976 peserta mengikuti seleksi nasional perguruan tinggi negeri. Dari jumlah tersebut, sekitar 253.421 peserta dinyatakan lulus, dengan tingkat kelulusan sekitar 29,43 persen. Angka ini menunjukkan bahwa persaingan untuk memasuki perguruan tinggi negeri masih sangat ketat, dengan lebih dari dua pertiga peserta gagal mendapatkan kursi pada seleksi utama. Namun, di balik angka-angka tersebut, ada pola yang menarik untuk dicermati: tingginya minat melanjutkan pendidikan tinggi tidak selalu sejalan dengan meratanya minat pada bidang-bidang sains dasar, termasuk fisika.

Fenomena ini tidak hanya terlihat di tingkat nasional, tetapi juga tercermin di tingkat daerah. Di Universitas Syiah Kuala (USK), jumlah peminat SNBP setiap tahun mencapai puluhan ribu orang, namun distribusi peminat masih didominasi oleh program studi berbasis kesehatan, ekonomi, dan teknik.

Kondisi pada Program Studi Fisika di USK memperlihatkan gambaran yang lebih spesifik. Pada SNBT 2026, Program Studi S1 Fisika FMIPA USK memiliki daya tampung sekitar 28 kursi. Sementara itu, berdasarkan data peminat SNBT tahun sebelumnya, jumlah peminat berada pada kisaran belasan orang. Dengan kata lain, tingkat persaingan di program studi ini relatif rendah, bukan karena ketatnya seleksi, melainkan karena terbatasnya minat pada bidang fisika itu sendiri.

Situasi ini juga tercermin dari komposisi mahasiswa di Universitas Syiah Kuala. Dari total sekitar 37.862 mahasiswa aktif, Fakultas Matematika dan Ilmu Pengetahuan Alam (FMIPA) hanya menampung sekitar 2.521 mahasiswa. Bahkan pada Program Studi Fisika sendiri, jumlah mahasiswa aktif juni 2026 hanya sekitar 148 orang (https://data.usk.ac.id/mahasiswa-aktif), jauh di bawah program studi lain seperti Informatika dan Statistika yang masing-masing memiliki ratusan mahasiswa aktif.

Pertanyaannya kemudian, mengapa hal ini terjadi?

Sebagian besar siswa masih melihat fisika sebagai rumus yang rumit, perhitungan yang panjang, dan soal-soal yang menakutkan. Tidak sedikit yang sudah merasa kurang percaya diri bahkan sebelum benar-benar mempelajari fisika. Stigma bahwa “fisika itu menakutkan” seolah telah menjadi narasi yang diwariskan dari satu generasi ke generasi berikutnya.

Padahal, sesungguhnya fisika jauh lebih mudah dari yang dibayangkan. Fisika adalah usaha manusia untuk memahami cara kerja alam semesta. Setiap kali seseorang melihat pelangi, menyalakan lampu, menggunakan ponsel, atau menikmati koneksi internet melalui satelit, sebenarnya ia sedang menggunakan hasil dari ilmu fisika.

Masalahnya, fisika sering kali hadir pertama kali kepada siswa dalam bentuk simbol dan persamaan, sebelum makna di baliknya sempat dipahami. Akibatnya, ia lebih sering dipandang sebagai beban hafalan daripada sebagai cara berpikir.

Di sisi lain, dunia teknologi modern justru berdiri di atas dasar yang sangat kuat dari ilmu fisika. Kecerdasan buatan (Artificial Intelligence) yang sekarang menjadi perhatian utama generasi muda tidak muncul hanya karena adanya perangkat lunak saja. AI membutuhkan semikonduktor, chip, sensor, pusat data, serta sistem komunikasi—semuanya hasil dari riset fisika dan rekayasa ilmu material nano yang berlangsung lama.

Generasi Z saat ini tumbuh bersama ChatGPT, Gemini, robotika, kendaraan listrik, hingga teknologi luar angkasa. Namun tidak banyak yang menyadari bahwa hampir seluruh teknologi tersebut bertumpu pada pemahaman mendasar tentang fisika.

Bagaimana Fisika Berjalan Bersama Kemajuan Teknologi Modern

Fisika bahkan tidak bisa dipisahkan dari perjalanan sejumlah tokoh teknologi dunia. Elon Musk, misalnya, menempuh pendidikan fisika pada jenjang sarjana yang kemudian membentuk cara berpikirnya dalam berbagai inovasi lintas bidang, mulai dari kendaraan listrik hingga eksplorasi antariksa.

Sementara itu, CEO NVIDIA, Jensen Huang pernah memberikan statement yang mengeparkan dunia, ia menyatakan bahwa jika ia harus kembali berusia 20 tahun hari ini, ia akan memilih belajar fisika dibandingkan ilmu komputer atau software. Menurutnya, pemahaman tentang hukum alam, inersia, gesekan, dan sebab-akibat akan menjadi kunci fondasi dalam era Physical AI (kecerdasan buatan fisik) dan robotika. Pandangan ini memberi satu penegasan sederhana: fisika bukan ilmu yang tertinggal, melainkan ilmu yang justru semakin dibutuhkan.

Perkembangan teknologi Solar cells generasi ketiga berbasis perovskite, hydrogen storage, material cerdas, kendaraan listrik, teknologi satelit, hingga sistem energi terbarukan menunjukkan bahwa masa depan teknologi tidak bisa dilepaskan dari sains dasar. Negara-negara maju seperti china, arab Saudi, jepang terus memperkuat investasi di bidang ini karena menyadari bahwa inovasi tidak hanya lahir dari aplikasi, tetapi dari pemahaman mendalam terhadap hukum alam.

Hal ini menjadi pengingat yang penting bagi bangsa Inonesia. Ketika minat terhadap sains dasar masih terbatas, tantangan ke depan tidak hanya terletak pada kemampuan menggunakan teknologi, tetapi juga pada kemampuan untuk memahami dan mengembangkannya.

Karena itu, upaya memperkuat minat terhadap fisika tidak bisa hanya dibebankan kepada perguruan tinggi. Cara fisika diperkenalkan di sekolah, cara sains dipahami di masyarakat, serta cara kita menghargai ilmu dasar akan sangat menentukan arah minat generasi muda ke depan. Maka kerja sama pemerintah, stake holder, sekolah, dan Masyarakat pada umumnya sangat dibutuhkan.

Penutup

Fisika pada dasarnya tidak pernah menjadi sesuatu yang menakutkan. Ia adalah cara manusia memahami alam, dari yang paling sederhana hingga yang paling kompleks di alam semesta.

Akhirnya, di tengah semakin kuatnya tren kecerdasan buatan yang digemari Gen Z, fisika tetap ada sebagai pondasi yang bekerja secara senyap di belakang layar. Ia mungkin tidak terlihat menarik di luar, tetapi tanpa ia, masa depan teknologi yang sedang dikejar tidak akan bisa terwujud. Mungkin sudah waktunya kita menyadari bahwa di balik ketertarikan Gen Z terhadap kecerdasan buatan, ada dasar yang sering diabaikan, yaitu fisika. Sebelum AI bisa meniru cara berpikir manusia, Fisika lah yang lebih dahulu menjelaskan bagaimana alam dan teknologi di dalamnya benar-benar bekerja.

Sumber:  Kompas.com, 27 Mei 2025; https://data.usk.ac.id/mahasiswa-aktif, 30 juni 2026; CNBCIndonesia.com, 25 Juli 2025

Download PDF

CC BY 4.0  •  Bebas disebarluaskan dengan menyebut sumber  •  Opini ini mewakili pandangan pribadi penulis, bukan posisi resmi organisasi

CATEGORIES:

Haba Fisika-Vol 1

Tags:

Comments are closed

Latest Comments

No comments to show.